Gaya Pengamen ala Sydney

Kompas.com - 15/02/2010, 10:50 WIB

SYDNEY, KOMPAS.com — Seperti kota-kota besar di seluruh dunia, Sydney juga memiliki pengamen jalanan. Hanya saja, gaya pengamen ibu kota negara bagian New South Wales, Australia, itu tidak seperti pengamen kebanyakan di Tanah Air.

Sebut saja Jasmine (29). Gadis cantik asal Brisbane itu mengaku tidak malu menjalankan profesi sebagai pengamen jalanan. Bahkan, mengamen dengan memetik gitar di jalanan diakuinya sebagai pekerjaan sehari-hari. "Saya memang hobi bermain musik dan menyanyi, tetapi ini (mengamen) adalah profesi saya," ujarnya saat dijumpai ketika sedang beraksi di koridor pertokoan Jalan George, kota Sydney.

Untuk menunjang kemampuannya, gadis yang mengaku hidup bersama teman prianya itu melengkapi diri dengan gitar dan perangkat pengeras suara seadanya. Di depannya juga tersedia mikrofon sehingga ketika bernyanyi lagaknya seperti penyanyi betulan yang sedang konser.

Lain lagi Wilson. Pemuda asli Aborigin ini memainkan alat musik asli sukunya, didgeridoo, di tengah keramaian koridor jalan antara Jembatan Harbour dan Opera House. Saat beraksi, Wilson berdandan khas ala sukunya, tanpa memakai baju dan mengecat sebagian besar bagian tubuhnya dengan warna putih.

Musik yang diperdengarkan Wilson dinamis dan atraktif, memadukan irama entakan seperti musik masa kini melalui alat perekam dengan irama musik yang ditiupnya langsung dari didgeridoo, kayu panjang berongga hingga menjulur ke lantai. Suara itu begitu eksotis dan menggoda.

Sesekali Wilson menari dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi tetap memegang didgeridoo. Bagi pengunjung yang tertarik iramanya, seorang teman Wilson yang selalu berdiri di sisi kirinya menyiapkan cakram padat berisi rekaman musiknya seharga 10 dollar Australia.

Rekaman cakram padat itu berisi album instrumental tanpa lagu dengan judul Spirit of the Land. Andalan lagunya antara lain "Forest Phunk", "Electro Gecko", "Yulara", "Kikin Kookas", dan "Shadow".

Tidak jauh dari Wilson terdapat seorang lelaki cukup berumur, berkumis putih tebal, memakai kaus kutung dengan rompi kulit, bertopi dan sepatu kets sedang memainkan gitar. Pak tua ini lebih banyak memainkan lagu-lagu dengan irama country dengan suara yang lumayan berat lewat alat pengeras suara seadanya.

Kalau rajin berjalan, masih banyak pengamen yang sedang beraksi di jalanan. Namun, karakteristik pengamen Sydney sebenarnya agak seragam. Masing-masing membawa alat musik andalannya dibantu alat pengeras suara seadanya. Lebih banyak dijumpai pengamen solo daripada yang berkelompok. Beberapa di antaranya sudah memiliki karya yang dipasarkan lewat cakram padat yang dijual saat mengamen.

Bagi pemusik sekelas Wilson, aktivitas mengamen sudah menjadi bagian dari konser untuk memasarkan karyanya. Adapun buat Jasmine, mengamen hanyalah pekerjaan sehari-hari sama seperti profesi para pekerja lainnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau